politik-indonesia.com – STUTTGART – Jauh sebelum demam kendaraan SUV meledak di pasaran, Porsche telah memprediksi bahwa segmen ini akan memiliki potensi besar bahkan menjadi penyelamat perusahaan di masa sulit. Porsche Cayenne adalah salah satu proyek besar dan paling menguntungkan untuk pabrikan di tengah badai krisis ekonomi yang paling signifikan saat itu. Padahal saat itu, Porsche merupakan produsen sportscar paling apik dan populer berkat racikannya yang membuat kendaraan terasa begitu menyenangkan.

Apa kode produksi Porsche Cayenne ketika digarap oleh Porsche dan VW?

Sejak kapan Porsche Traction Management (PTM) dan Porsche Active Suspension Management (PASM) dipasang pada Porsche Cayenne?

Apa fungsi dari Porsche Traction Management?

Namun pabrikan tidak hanya berhenti di situ. Setelah sukses meluncurkan Boxster di 1996, tercetus ide untuk membuat “spesies” lain yang mampu mewariskan keahlian sportscar yang khas serta memiliki karakter berbeda untuk disajikan pada konsumen.

Di atas meja terdapat dua pilihan mulai dari MPV dan SUV. Tapi pasar terbesar saat itu adalah Amerika Utara yang didominasi oleh segmen SUV. Otomatis pabrikan lebih condong membuat SUV yang tidak hanya atraktif dengan kemampuan off-road yang maksimal, juga kental dengan experience sportscar yang kental.

Apalagi, pimpinan Porsche saat itu Wendelin Wiedeking juga mengarahkan untuk merangkul pasar Asia yang dinilai tengah berkembang. Prediksinya benar, kini menjadi pasar yang sangat potensial untuk para pabrikan khususnya brand premium dan sportscar. Oleh karena itu, Porsche Cayenne dibentuk secara serius hingga merangkul Volkswagen di awal pengembangannya.

Proyek besar antara Porsche dan Volkswagen ini memiliki kode Colorado dan secara resmi diumumkan pada 1998 di Leipzig. Saat itu, kedua perusahaan memutuskan untuk berbagi platform yang juga digunakan oleh Volskwagen Touareg, SUV populer milik VW. Namun Porsche memutuskan untuk menggunakan mesin dan pengaturan sasis secara mandiri untuk pengembangan Cayenne generasi pertama. Sejujurnya, Porsche Cayenne adalah SUV pertama Porsche yang memiliki utilitas dan dipadukan dengan kemampuan off road sejati.

Generasi Porsche Cayenne pertama memang sudah didesain sebagai kendaraan touring yang ramah keluarga dan memiliki kapabalitas yang tangguh. Oleh karena itu pabrikan menghadirkan desain yang menawan dan maskulin serta membenamkan dua pilihan mesin berkonfigurasi V8 untuk Cayenne S dan Cayenne Turbo.

Selain itu, tersedia pula persenjataan lain yang disematkan pada Porsche Cayenne agar lebih terasa atraktif. Salah satunya ialah Porsche Traction Management (PTM) dan Porsche Active Suspension Management (PASM). Fungsi dari PTM sendiri ditujukan untuk mendistribusikan tenaga penggerak antara penggerak depan dan belakang dengan rasio yang cukup spesifik yakni 62:38. Namun pada kondisi tertentu rasio daya antara roda depan dan belakang juga bisa disesuaikan secara otomatis menjadi 100:0 atau 0:100.

Sementara itu, fitur Porsche Active Suspension Management adalah untuk mengatur gaya redaman dan membaca kondisi jalan yang dilalui oleh pengendara. Suspensi udara yang dimiliki oleh Cayenne juga didesain untuk memberikan kenyamanan ekstra saat melewati berbagai medan jalan mulai dari off-road maupun on-road. Racikan yang dilakukan oleh Porsche terhadap Cayanne lagi-lagi bukan hanya soal kapabilitas namun hingga ke soal kenyamanan penumpang di dalam kabin.

Lewat racikan itu, Porsche Cayenne sukses membawa pabrikan ke masa keemasan. Namanya begitu populer dan makin meroket, jauh dari prediksi kaum purist yang menganggap Cayenne sebagai proyek bunuh diri Porsche. Lebih dari ratusan ribu Cayenne ludes terjual bahkan pada 2020 silam tercatat telah terjual hingga 1 juta unit sejak diperkenalkan pada 2002.

Cayenne Generasi Kedua, Mulai Hybrid

Sebenarnya lebih banyak hal teknis yang kemudian membuat Porsche Cayenne begitu populer di mata para fans bahkan konsumen awam. Namun hal tersebut merupakan buah dari upaya Porsche di awal pengembangan Cayenne yang begitu keras dan serius bersama dengan Volkswagen.Seperti tidak puas dengan pencapaiannya di generasi pertama, Porsche Cayenne mulai melirik segmen lain yakni elektifikasi di generasi kedua dengan menghadirkan varian hybrid. Porsche Cayenne punya perbekalan baru yakni mesin supercharged V6 3.0-liter yang digabungkan dengan motor listrik 34 kW dan menghasilkan tenaga maksimal hingga 378 hp.

Pabrikan juga memberikan penyempurnaan teknis seperti penggantian kotak transfer case dengan jarak renda serta sistem all wheel drive dengan multi kontrol aktif yang dapat dikendalikan secara manual. Porsche pun memikat konsumen dengan menghadirkan tampilan kabin yang lebih elegan namun tidak mengurangi nilai sport di dalamnya. Porsche Cayenne S E-Hybrid sukses dipasaran dengan jangkauan listrik murni yang mencapai 30 kilometer tanpa emisi.

Kesuksesan yang dicapai oleh Porsche lewat kehadiran Cayenne membuatnya semakin “gila.” Bukan hanya soal teknologi dan sajian kendaraan premium tetapi hingga pada soal teknis yang paling detail. Vice President Product Line SUV Porsche saat itu, Hans-Jurgen Wohler menyatakan bahwa, “ini semua tentang membuat Cayenne yang lebih sporty dan dipadukan dengan kenyaman berkendara serta mempertahankan kemampuan offroadnya.”

Oleh karena itu, generasi ketiga Porsche Cayenne memiliki spesifikasi yang lebih ciamik dibandingkan model sebelumnya. Salah satunya ialah body shell dengan alumunium baru demi mereduksi bobot kendaraan, serta menyempurnakan sistem supensi dengan tiga ruang dan kemudi gardan belakang yang dikembangkan secara khusus. Inti dari peningkatan ini adalah memberikan pengalaman berkendara yang lebih maksimal dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Di sisi lain, Porsche Cayenne juga melakukan penyempurnaan dalam hal kenyaman salah satunya ialah pembaruan konektivitas. Layanan hiburan pada generasi ketiga kini hadir lebih mutakhir dengan integrasi ke smartphone, wifi, bluetooth hingga meninggalkan varian bermesin diesel dan fokus pada teknologi hybrid. Di generasi pertama Cayenne S Hybrid tidak terlalu banyak pesaing yang memainkan teknologi ini apalagi di segmen premium sportscar. Apalagi yang ditawarkan oleh Porsche adalah sistem hibrida penuh bukan power split yang umumnya digunakan pada kendaraan hybrid dan plug in hybrid. Oleh karena teknologi tersebut, Porsche Cayenne tidak hanya mengandalkan motor listriknya untuk putaran awal kendaraan bahkan saat berakselerasi hingga ke 120 km/jam.

Lewat inovasi yang dihadirkan oleh Porsche Cayenne membuatnya menjadi salah satu pionir hibrida di kelas kendaraan premium dan sportscar. Pasalnya tanpa bantuan mesin pembakaran internal, Porsche Cayenne mampu meningkatkan kemampuan akaselerasinya hingga 135 km/jam dan memiliki daya jelajah hingga 44 km.

Pada generasi ini, Porsche Cayenne menggunakan baterai berkapasitas 17,9 kWh dengan motor listrik yang didesain lebih efisien dan dinamis. Namun bukan berarti Porsche Cayenne tidak bertenaga, daya maksimal yang mampu dihasilkan oleh mesin dan motor listriknya mencapai 678 hp dengan torsi puncak yang mencapai 900 Nm. Bahkan di atas kertas Porsche Cayenne S Turbo mampu mencapai akselerasi 0 – 100 km/jam hanya dalam 3,8 detik saja.

Porsche Cayenne Turun Reli Transsyberia

Di samping itu, Porsche juga kembali memberikan formula yang lebih maksimal pada Cayenne yakni menjadikannya supercar di segala medan. Pada 2006 silam, terdapat dua tim reli swasta yang mengikutsertakan Porche Cayenne S di Reli Transsyberia yang melintasi Moskow, Siberia hingga ke Ulaanbaatar di Mongolia. Cayenne S tersebut berhasil memborong podium dengan menempati posisi pertama dan kedua.

Kemudian, Porsche mendapat inspirasi dari prestasi tersebut dan mengembangkan 26 mobil Cayenne S versi Transsyberia secara terbatas yang disesuaikan untuk reli jarak jauh. Kendaraan tersebut dipinang oleh konsumen dan ikut dalam ajang reli Transsyberia 2007, hasilnya terdapat tujuh Porsche yang masuk dalam 10 besar terbaik.

Porsche Cayenne versi Transsyberia ini memiliki perbekalan yang cukup mendukung seperti ban besar dengan spesifikasi all terrain, rollbar, rasio gardan yang lebih pendek, diffential lock, serta suspensi depan yang dibuat lebih kuat. Sementara di bagian mesin tidak terdapat penyetelan yang signifikan, masih menggunakan mesin V8 3,5-liter yang menghasilkan tenaga 383 hp yang dikawinkan dengan transmisi otomatis.

Keberhasilan inilah yang kemudian membuat Porsche meningkatkan varian lain yang lebih kompetitif dengan perbekalan fitur yang lebih serius dan mumpuni. Salah satu yang paling menarik adalah pabrikan menghadirkan teknologi Porsche Dynamic Chassis Control (PDCC) yang bertujuan mengurangi body roll saat di tikungan.

Porsche Cayenne sudah sukses mencuri perhatian konsumen sejak awal diluncurkan pada 2002 silam dengan sejumlah perbekalan performanya. Bahkan berselang beberapa tahun setelah peluncurannya, pabrikan sudah berambisi untuk merancang Cayenne yang lebih sporty dalam segala hal. Proyek tersebut akhirnya menghasilkan sebuah Cayenne GTS yang diambil dari Gran Turismo Sport milik 928 yang legendaris.

Di dalam proyek tersebut para insinyur melakukan sejumlah penyempurnaan salah satunya ialah mengganti mesin V8 turbo dengan non turbo namun memiliki respon throttle yang agresif. Kemudian untuk pertama kalinya sistem suspensi pada Cayenne dipadukan dengan Porsche Active Suspension Management (PASM) yang sebelumnya hanya tersedia pada model sedan coupe. Dari sisi desain, terdapat penyematan desain Cayenne Turbo untuk bagian depan dengan lengkungan roda yang dibuat lebih lebar 14 mm dan lebih rendah 24 mm dari Cayenne S. Hal tersebut demi membuat tampilan yang lebih mencolok dan memberikan kesan lebih sporty dari varian Cayenne lainnya.

Kini eksistensi Porshe Cayenne telah berusia 20 tahun dan masih menjadi model paling favorit di sejumlah negara. Bagkan Oliver Blume, Ketua Dewan Eksekutif Porsche AG pernah menyatakan bahwa “Mobil sport kami di segmen SUV telah terbukti menjadi mesin terlaris dan berkembang sejak tahun 2002. Dan bukan hanya itu. Cayenne telah membuka pintu ke banyak pasar baru untuk Porsche dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi internasionalisasi jaringan penjualan kami.”

Namun kesuksesan Porsche Cayenne tersebut sebenarnya sudah diprediksi oleh sang pendiri yakni Ferry Porsche meramalkannya pada tahun 1989: “Jika kami membangun model off-road sesuai dengan standar kualitas kami, dan memiliki lambang Porsche di bagian depan, orang akan membelinya.” (ALVANDO NOYA/EK)