politik-indonesia.com – Istilah perjalanan dinas tentunya tidak asing bagi banyak karyawan di korporasi. Biasanya korporasi menugaskan karyawan kepercayaannya untuk melakukan perjalanan dinas, baik keluar kota maupun keluar negeri, untuk menyelesaikan urusan pekerjaan demi kepentingan korporasi.

Urusan pekerjaan tersebut seperti menjalin kerja sama dengan klien, kunjungan ke cabang, rapat atau bertemu pihak dari perusahaan lain.

Saat karyawannya melakukan perjalanan dinas, untuk aspek akomodasi kebanyakan korporasi akan berkomunikasi dengan agen travel langganan untuk menyiapkan rencana perjalanan dinas dan penerbitan tiket transportasi dan voucher hotel.

Padahal dengan bantuan sistem berbasis teknologi terkini, hal itu dapat dikelola secara lebih mudah oleh korporasi.

Menyadari kebutuhan korporasi dalam mengelola perjalanan dinas, Edward Nelson Jusuf mendirikan startup di bidang travel technology bernama Opsigo.

Opsigo sendiri memiliki platform bernama Opsicorp, yang merupakan platform pengelolaan perjalanan dinas untuk korporasi agar lebih efisien.

Platform ini memberikan kemudahan bagi korporasi untuk mengelola perjalanan dinas mereka dengan cara yang lebih efisien dan terintegrasi langsung dengan sistem ERP (Enterprise Resource Planning) dan keuangan internal, serta dengan agen travel pilihan.

Saat ini, sistem Opsicorp terkoneksi dengan lebih dari 40 agen travel terkemuka di Indonesia, di mana terdapat lebih dari 200 maskapai penerbangan dan lebih dari 300.000 hotel property di seluruh dunia.

Hal ini memungkinkan korporasi dapat memilih sendiri agen travel serta fasilitas perjalanan yang sesuai dengan kebijakan perjalanan dinas masing-masing.

Proses persetujuan dan pencatatan pengeluaran pun dilakukan secara otomatis, sehingga mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk mengelola perjalanan dinas.

Selain itu, Opsicorp dilengkapi dengan travel management dashboard yang memungkinkan korporasi untuk melakukan analisa dan identifikasi atas data-data transaksi, sehingga dapat dilakukan penyempurnaan proses kerja yang akan berdampak pada efisiensi di masa depan.

“Dengan Opsicorp, korporasi dapat mempersingkat waktu pengelolaan perjalanan dan menurunkan biaya perjalanan hingga 20-30%,” kata Edward, Pendiri sekaligus CEO, Opsigo.

Manfaatkan Teknologi dari Microsoft

Saat ini, Opsicorp telah dipercaya oleh berbagai perusahaan terkemuka di Indonesia. Beberapa di antaranya seperti Avrist, Kanmo Retail, Pegadaian, Pertamina dan Sritex.

Untuk mendapat keuntungan dari perusahaan-perusahaan seperti di atas, karena Opsigo bergerak di bidang penyediaan platform maka menerapkan model bisnis yang Edward sebut sebagai Software as a Service (SaaS).

“Konsumen dapat membayar dalam per transaction basis. Kami charge per dokumen yang disetujui dengan biaya Rp15.000 melalui Opsicorp,” tutur Edward.

Lebih lanjut, untuk memastikan setiap proses transaksi dan penyimpanan data transaksi yang dilakukan korporasi terjaga dengan aman, Opsigo memanfaatkan teknologi cloud computing dari Microsoft Azure sebagai mesin virtual (Virtual Machine).

“Karena produk atau layanan yang diberikan Opsigo sangat berkaitan dengan transaksi keuangan, perusahaan harus dapat menjamin keamanan data dan sistem layanan. Security Microsoft pun memberikan assurance bahwa sistem kami akan tetap secure, sehingga mencegah menimbulkan kerugian untuk nasabah ataupun perusahaan,” jelas Edward.

“Selain itu, pelanggan Opsigo, baik itu dari BUMN maupun enterprise, secara umum juga memanfaatkan ekosistem Microsoft seperti Microsoft Azure, sehingga sistem Opsigo mudah terintegrasi dengan sistem mereka,” sambungnya.

Berkat inovasi dan pertumbuhannya bersama Microsoft, Opsigo sukses terpilih sebagai Microsoft Independent Software Vendor tahun 2019.

Perusahaan ini juga telah mendapatkan sertifikasi NDC (New Distribution Capability) dari Singapore Airlines dan Emirates yang memungkinkan integrasi langsung antara Opsigo dengan sistem dari kedua maskapai penerbangan tersebut.

Pada tahun 2021, Opsigo juga menjadi peserta gelombang pertama dalam Startup Pitch (HUB.ID) yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), di mana Opsigo dihubungkan dengan MDI Ventures sebagai investor.

Tantangan Utama yang Dihadapi

Ketika ditanyai soal tantangan, Edward mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi Opsigo saat ini salah satunya adalah pendanaan.

“Ini mengingat sektor travel and tourism ini dianggap masih terpuruk akibat pandemi COVID-19. Padahal kami melihat Indonesia menunjukkan anomali, di mana sektor travel kita pulih lebih cepat dari negara-negara lain,” cetus Edward.

Selain itu, masih banyak dari korporasi yang tidak menyadari bahwa ketika mengubah sistem, juga harus mengubah business process. “Perubahan ini masih sulit diterima korporasi-korporasi,” ucapnya.

Yang terakhir, masih banyak anggapan bahwa biaya atas penggunaan teknologi seperti Opsicorp akan menambah biaya operasional.

Padahal, menurut Edward sebetulnya biaya teknologi ini akan menggantikan biaya gaji karyawan di korporasi.

“Untuk mengatasinya, kami melakukan edukasi, benchmark, dan contoh sukses dari konsumen Opsigo yang berhasil menerapkan transformasi digital. Melalui success story ini, yang menunjukkan bukti penghematan, perlahan mereka juga bisa berubah. Selama COVID-19, orang juga terpaksa untuk berubah dan utilisasi teknologi digital tiba-tiba meningkat. Jika sebelumnya tidak terpaksa karena COVID-19, mungkin ini sulit dicapai,” pungkas Edward.

Di sisi lain, Opsigo juga melakukan upaya untuk mendukung perkembangan wisata di tanah air. Saat ini, Opsigo mendukung Ikatan Operator Wisata Inbound Indonesia (IINTOA) untuk menyediakan paket wisata melalui laman indonesia.travel, yang juga bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Paket wisata yang ditawarkan IINTOA telah didukung Opsigo sebagai mesin pemesanan dan telah terintegrasi melalui API dengan indonesia.travel untuk memfasilitasi peserta KTT G20 di yang berlangsung di Bali pada November 2022.