politik-indonesia.com – Harga Bitcoin dini hari ini, Selasa (29/3/2022) resmi masuk ke wilayah lebih dari US$48 ribu, mengenapi penguatan setidaknya sejak awal tahun 2022. Harga itu mengembalikan harga BTC seperti akhir Desember 2021.

Kapitalisasi pasar kripto keseluruhan saat mencapai US$ 2,168 triliun dan tingkat dominasi Bitcoin adalah 42,2 persen, berdasarkan data Coinmarketcap.com. Kripto besar lainnya, ETH, XRP, BNB, SOL dan lain sebagainya juga turut menguat. Sementara itu, harga Terra (LUNA) baru saja mencetak harga tertingi sepanjang masa di kisaran US$106.

Sejumlah pengamat berpendapat, jika kripto nomor wahid itu bertahan di wilayah US$46 ribu, maka Bitcoin berpotensi besar kembal ke all time high, US$69 ribu yang dicapai pada 10 November 2021 lalu.

Pergerakan positif terkini mengikuti pergerakan kuat menuju penutupan mingguan, yang berlanjut sejak 28 Maret, menghasilkan kenaikan mingguan hampir 17 persen.

“Selama Bitcoin bertahan di US$46 momentum atau tren mendorong BTC kembali ke kisaran tertinggi,” kata Will Clemente, analis kripto, Selasa (28/3/2022) di Twitter.

Senada dengan Clemente, menurut Rekt Capital, yang mengidentifikasi dua rata-rata pergerakan utama sebagai “bahan bakar” potensial untuk mengirim Bitcoin kembali ke harga tertinggi sepanjang masa alias all time high.

Clemente menyematkan grafik mingguan yang menunjukkan bahwa histogram pada indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) Bitcoin telah berubah menjadi hijau, menandakan dimulainya tren naik. Ini terjadi untuk pertama kalinya sejak tertinggi sepanjang masa November.

Redaksi Blockchainmedia telah jauh-jauh hari memproyeksikan munculnya bar hijau pada histogram tersebut. Anda bisa membacanya di artikel ini.

Dilansir dari Cointelegraph, sumber daya pemantauan secara on-chain dari Whalemap, bahwa US$47.400 adalah area penting pada tingkat makro, berkat akumulasi yang telah terjadi sebelumnya.

Namun demikian, pandangan berseberangan datang dari Mike McGlone, analis senior di Bloomberg.

Ia memasukan faktor kenaikan suku bunga yang lebih besar oleh The Fed pada tahun ini.

Menurutnya itu akan menekan harga kripto, karena trader dan investor bertahan untuk tidak mengakumulasinya.

Sentimen pasar kripto akhir-akhir ini terkesan berbeda daripada proyeksi sebelumnya, terkait kenaikan suku bunga.

Tahun lalu dan awal Januari 2022, sejumlah pengamat khawatir, bahwa kenaikan suku bunga akan menguatkan dolar AS di pasar dan melemahkan pasar modal. Itu pun diakibatkan oleh berhentinya The Fed membeli obligasi pemerintah AS dan obligasi perusahaan.

Karena pasar modal punya korelasi positif dengan pasar kripto, maka pasar kripto berpotensi terkena tekanan akibat aksi jual.

Namun, data tetap saja menyuguhkan kenyataan pasar yang sulit dibantah, bahwa pasar kripto memang sedang membuncah. [ps]