politik-indonesia.com – TONCoin punya jalan yang panjang, buah pikir Pavel Durov, Bos Telegram bersama Nikolai Durov (sang arsitek), sejak tahun 2018. Mampukah TONCoin, blockchain The Open Network (TON) ini bersaing dengan “pemain lama” di industri yang sedang panas ini?

Blockchain semakin senyawa dengan aktivitas kita sehari-hari, setidaknya di komunitas tertentu. Sebagai sebuah teknologi yang efisien dan terbuka, berbagai perusahaan besar berlomba-lomba untuk meluncurkan blockchain milik mereka sendiri dengan teknologi tercanggih dan terbaru. Facebook (sekarang Meta Platform) gagal mempertahankan Diem dan menjualnya ke Silver Bank, setelah dihardik oleh Kongres AS.

Sementara itu, ada Pavel Durov (mantan pendiri VK, Facebook-nya Rusia) merestui blockchain The Open Network (TON), beraset kripto TONCoin, siap dinikmati oleh publik, setelah beberapa tahun senyap.

Apa Itu TONCoin dan The Open Network?

TON adalah singkatan dari Telegram Open Network sebelum namanya berubah menjadi The Open Network (beraset kripto TONCoin).

Pada tahun 2018, Pavel Durov bersama dengan saudaranya, Dr. Nikolai Durov, membentuk sebuah proyek pembuatan blockchain yang direncanakan dipadu kuat bersama aplikasi popular Telegram. Namun, timnya “tersandung kasus” di Amerika Serikat hingga sampai ke meja hijau, gegara aksi kumpul dana investasi yang dianggap ilegal bernilai miliaran dolar AS. Ketika itu aset kripto yang ditawarkan bernama GRAM. Digugat oleh SEC Paman Sam, itu yang membuat nama TON kian menghilang.

Setelah Proyek Blockchain TON (TONCoin) Beralih dari Tangan Pavel Durov, Bos Telegram

Nama TON kembali mencuat pada Desember 2021 dan awal tahun 2022, setelah pernyataan Pavel Durov bahwa TON melakukan rebranding dari “Telegram Open Network” menjadi “The Open Network”, setelah beberapa komunitas pengembang blockchain asal Rusia mengambil alih.

“Ketika Telegram mengucapkan selamat tinggal kepada TON tahun lalu, saya mengungkapkan harapan bahwa generasi pengembang masa depan suatu hari nanti akan melanjutkan visi kami tentang platform blockchain berskala besar. Jadi saya terinspirasi melihat juara kontes coding Telegram terus mengembangkan proyek TON yang terbuka, yang mereka rebranding menjadi Toncoin. Saya juga bangga bahwa teknologi yang kami ciptakan masih hidup dan berkembang. Dalam hal skalabilitas dan kecepatan, TON masih lebih maju dibanding yang lainnya di dunia blockchain. Akan sangat disayangkan apabila melihat proyek ini tidak bermanfaat bagi banyak orang. Berbeda dengan TON asli, Toncoin tidak tergantung pada Telegram. Tapi saya berharap tim Toncoin sukses. Dengan strategi masuk ke pasar yang tepat, mereka memiliki semua yang mereka butuhkan untuk membangun sesuatu yang hebat,” ucap Durov meyakinkan publik, bahwa Telegram sebagai entitas bisnis dan dirinya pribadi tidak masuk urusan TONCoin ini.

Ini menandakan nama Telegram secara korporat tidak lagi terlibat secara langsung dan menyerahkan proyek ini kepada komunitas open-source TON. Native crypto-nya disebut TONCoin (belakangan diubah lagi, cukup dengan sebutan TON).

Kripto TONCoin dengan native blockchain-nya diklaim sebagai generasi blockchain 3.0, yang memanfaatkan shard chain bersistem Proof-of-Stake (PoS). Shard chain adalah kata kunci efisiensi waktu dan biaya transaksi, selain fitur bridge, yang juga diterapkan di blockchain Ethereum 2.0.

Fitur-fitur Blockchain TON

Blockchain TON memiliki beberapa fitur utama, yang membuat TONCoin bisa punya use case luas. Ada tujuh komponen utama, yaitu sebagai berikut:

  1. TON Payments — merupakan sebuah platform pembayaran mikro pada jaringan Blockchain. TON Payments bisa digunakan untuk melakukan transfer off-chain secara instan yang bisa dilakukan pada bot, pengguna, dan layanan lain.
  2. TON DNS — komponen yang satu ini memungkinkan pengguna bisa menjelajahi Blockchain selayaknya menjelajahi World Wide Web (WWW). TON DNS juga akan menjadikan address kripto lebih mudah digunakan oleh publik dengan melengkapi nama yang bisa dibaca manusia, kontrak cerdas, node jaringan, dan layanan lain. Di blockchain Ethereum, fitur ini mirip dengan ENS (Ethereum Name Service).
  3. TON Proxy — komponen satu ini memungkinkan pengguna untuk membangun layanan VPN terdesentralisasi. Selain itu, TON Proxy juga menjadi alternatif TOR berbasis blockchain yang mampu mencapai anonimitas dan melindungi privasi. Jika dikombinasikan dengan jaringan P2P dan TON DNS, TON Proxy bisa memberikan kekebalan sensor pada aplikasi terdesentralisasi.
  4. TON Storage — teknologi ini serupa dengan penyimpanan berbasis cloud, tetapi dengan komponen yang lebih baik, memanfaatkan jaringan peer-to-peer. TON Storage dapat diakses melalui blockchain TON dan mampu menyimpan dan menukar data dalam jumlah besar. Ini mempunyai kemiripan karakter seperti IPFS (Interplanetarty File System) yang digunakan luas untuk penyimpanan file digital untuk NFT (Non-Fungible Token), terhubung dengan blockchain Ethereum dan Polygon,
  5. TON Workchains — terdapat dua jaringan dalam ekosistem TON, yakni master chain dan work chain. Kedua jaringan ini memiliki perbedaan dalam hal bentuk akun, smart contract, kripto (token), dan lain sebagainya. Namun, TON Workchains ini masih bisa berinteraksi menggunakan aturan dasar yang konsisten.
  6. TON Services — dengan komponen ini, TON menyediakan platform serbaguna sebagai layanan pihak ketiga. Hal ini memungkinkan aplikasi terdesentralisasi (dApp) berkekuatan smart contract mudah diterapkan di ponsel cerdas.

Apakah TONCoin Menjanjikan?

Meski sempat mengalami masalah dan proyeknya dialihkan oleh Telegram, TONCoin mulai bangkit dan menjadi popular dalam beberapa bulan terakhir. Namun, apakah hal tersebut berarti kripto TONCoin akan membawa keuntungan?

Jawabannya sangat relatif, ketika menemui fakta bahwa persaingan antar proyek blockchain-kripto semakin ketat. Belum lagi banyak yang sudah mengarah ke proyek metaverse dan pengayaan NFT, dengan kucuran dana super besar dari perusahaan ventura.

Namun keungguan relatif TON adalah terletak pada relasi kuatnya dengan nama Pavel Durov dan VK.

Perhatikan, bahwa pada 26 Januari 2022, TON mengumumkan Andrew Rogozov, mantan CEO VK.com, bergabung di TON Foundation sebagai penyelia penuh untuk sejumlah proyek terkait TON ‘agar bisa terintegrasi penuh dengan aplikasi Telegram’. VK adalah media sosial terbesar di Rusia, yang dulu didirikan pula oleh Durov bersaudara.

Telegram sendiri saat ini sudah dihuni oleh lebih dari 500 juta pengguna aktif. Jika TON dan TONCoin kian terpadu dengan aplikasi besar ini, maka use case kripto-nya sangat luar biasa, sesuai dengan cita-cita awal Pavel Durov. Pun lagi, saat ini ada beberapa aplikasi dompet kripto TONCoin yang sudah bisa digunakan langsung di Telegram.

Singkat kata, semua fitur itu dan sebagian memang sudah bisa digunakan, sudah memenuhi syarat utama bersaing dengan proyek sejenis. Namun, ibarat sebuah produk, keunggulan tak akan ada artinya, tanpa strategi promosi dan kekuatan mediumnya. [ps]

blockchainmedia.id.